Raih Karier Gemilang: Pusat Karier UIN Jakarta Edukasi Mahasiswa Bangun Portofolio dan Etos Kerja Profesional

Raih Karier Gemilang: Pusat Karier UIN Jakarta Edukasi Mahasiswa Bangun Portofolio dan Etos Kerja Profesional

Zoom Meeting, Berita Pusat Karier UIN Jakarta – Menghadapi kenyataan dunia kerja yang kian kompetitif, mahasiswa dituntut untuk melakukan persiapan komprehensif yang mencakup aspek akademik, mental, serta keahlian praktis. Merespons hal tersebut, Pusat Karier UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyelenggarakan kegiatan webinar persiapan karier (career readiness). Selaras dengan visi institusi untuk mencetak lulusan yang siap bersaing di pasar tenaga kerja, kegiatan ini menghadirkan praktisi Human Resources (HR), Arya Saputra Ramadani, guna memaparkan strategi penyusunan Curriculum Vitae (CV) yang efektif serta taktik keberhasilan dalam wawancara kerja.

Dalam pemaparannya, Arya memberikan perspektif langsung dari sisi rekruter perusahaan. Ia menyoroti kesalahan umum para pelamar yang kerap sekadar mencantumkan deskripsi tugas pada CV tanpa melampirkan pencapaian yang nyata. Menurutnya, pihak perusahaan tidak sekadar mengevaluasi rutinitas pekerjaan pelamar, melainkan menilik secara mendalam dampak (impact) dan hasil (result) konkret dari kontribusi yang diberikan. Oleh karena itu, peserta diimbau untuk mendeskripsikan pengalaman kerja dan organisasi menggunakan pendekatan yang terukur, yakni berlandaskan tindakan (action), dampak (impact), dan hasil (result). Lebih lanjut, ia menyarankan agar pelamar menghindari pencantuman grafik keahlian (skill bar) seperti persentase penguasaan perangkat lunak, dan lebih memprioritaskan penjabaran kompetensi secara deskriptif serta melampirkan portofolio yang terstruktur.

Di samping kelengkapan administratif, Arya turut menegaskan pentingnya keselarasan budaya (culture fit) dan etos kerja sebagai elemen fundamental di lingkungan profesional. Ia memperkenalkan kerangka evaluasi rekrutmen berbasis ASK (Attitude, Skill, Knowledge), yang menempatkan sikap dan perilaku (attitude) sebagai prioritas tertinggi. Ia menegaskan bahwa pelamar yang enggan untuk belajar, menolak masukan evaluatif, serta tidak mampu berkolaborasi secara tangkas tidak akan diprioritaskan oleh rekruter. Asumsi dasarnya adalah kecakapan teknis masih dapat dikembangkan melalui bimbingan dan pelatihan, namun karakter individu yang tidak adaptif akan berpotensi merugikan produktivitas perusahaan.

Memasuki tahapan wawancara, pengendalian tingkat kecemasan pelamar menjadi salah satu faktor penentu. Untuk memitigasi kendala tersebut, Arya membagikan pendekatan psikologis yang taktis, yakni dengan mengarahkan pandangan ke area dahi atau batang hidung pewawancara. Area tersebut merupakan titik buta (blind spot) yang memungkinkan pelamar mempertahankan kontak mata secara profesional tanpa harus merasa terintimidasi secara psikologis. Selain itu, ia merekomendasikan penerapan metode STAR (Situation, Task, Action, Result) dalam merespons setiap pertanyaan wawancara, guna memastikan jawaban yang diberikan tersusun secara sistematis, komprehensif, dan persuasif.

Tingginya antusiasme peserta tecermin pada sesi diskusi interaktif. Para mahasiswa proaktif mengajukan pertanyaan strategis, mulai dari langkah membangun relasi profesional (networking), hingga strategi bagi mahasiswa program studi keagamaan dalam menembus seleksi perusahaan publik dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Rangkaian webinar ini kemudian ditutup dengan penugasan interaktif berupa publikasi media sosial, di mana peserta diinstruksikan untuk membagikan wawasan esensial yang mereka peroleh guna menginisiasi pembentukan rekam jejak digital dan personal branding yang positif. Melalui inisiatif edukatif ini, diharapkan mahasiswa dapat mengakselerasi pengembangan portofolio mereka sekaligus mempersempit kesenjangan kompetensi (competency gap) menuju profesionalisme yang unggul

 

(Nayla M./Sumber Gambar: Dok. Tim SMC)