Pelatihan Jurnalistik sebagai Langkah Awal Penyusunan Naskah Berita

Pelatihan Jurnalistik sebagai Langkah Awal Penyusunan Naskah Berita

Tangerang Selatan, Berita Pusat Karier UIN Jakarta – Pusat Karier UIN Jakarta menggelar Program Pelatihan Jurnalistik Mahasiswa bertema “Pelatihan Jurnalistik sebagai Langkah Awal Penyusunan Naskah Berita” di Kantor Alumni Center UIN Jakarta, Ciputat Timur, Senin (5/10/2026) pukul 16.00 WIB. Kegiatan ini diikuti mahasiswa internship Pusat Karier UIN Jakarta.

Dalam pelatihan itu, pemateri Muhammad Kholis Hamdy, S.H., M. IntDev M. Int. Dev.,  selaku kepala Pusat Karier UIN Jakarta menyampaikan bahwa materi disusun dalam waktu singkat agar dapat berguna bagi karier peserta ke depan. Ia menyebut kemampuan dasar menulis berita sebagai bekal yang berkaitan dengan aktivitas sehari-hari. “Kita minimal tahu bagaimana cara menulis berita yang baik secara mendasar. Itu penting karena bagaimanapun juga ini kehidupan yang sehari-hari kita lalui dan kemungkinan ini menjadi sebuah skill di dunia kerja” kata pemateri.

Materi diawali pemaparan tentang fungsi pers, etika dasar, dan standar objektivitas sebelum menulis. Pemateri menyebut fungsi pers meliputi informatif, edukatif, kontrol sosial, dan perekat sosial. Peserta juga diperkenalkan pada prinsip berita, yaitu akurasi, keberimbangan fakta, pemisahan opini, dan kode etik jurnalistik.

Pada bagian teknik penulisan, peserta mempelajari rumus 5W+1H serta teknik piramida terbalik, yang menempatkan fakta terpenting di paragraf pertama. Struktur berita lurus (straight news) dijelaskan terdiri atas judul, lead, badan berita, dan ekor berita. Pemateri menggunakan contoh berita bursa kerja untuk menunjukkan bagaimana lead memuat 5W+1H, badan berita memuat detail dan kutipan, serta ekor berita memuat konteks tambahan.

Pemateri juga membahas ragam bahasa jurnalistik yang hemat kata, mengikuti kaidah PUEBI, serta menghindari jargon dan kalimat rancu. Peserta dikenalkan pada teknik penyuntingan mandiri. Dalam konteks ini, pemateri menyinggung penggunaan kecerdasan buatan dalam penulisan. “Apalagi zaman kalian, semuanya dari AI. Kalau nggak diedit bisa berbahaya,” tegasnya.

Materi mengenai kutipan langsung dan tidak langsung dibawakan oleh pembicara kedua selaku Leader EPM Noni Rachmatunisa. Ia menjelaskan bahwa kutipan langsung menampilkan pernyataan persis seperti yang diucapkan, sedangkan kutipan tidak langsung merangkum gagasan inti tanpa mengubah makna. Peserta juga diperkenalkan pada variasi kata atribusi, seperti “ujar”, “tegas”, “papar”, dan “imbau”, serta diingatkan untuk menghindari “dinding kutipan” dengan memadukan fakta, kutipan, dan konteks. Pemateri pertama menambahkan penjelasan tentang kerahasiaan narasumber: informasi on the record bebas dipublikasikan, informasi background dipublikasikan tanpa menyebut identitas, dan informasi off the record tidak boleh dipublikasikan dalam bentuk apa pun.

Peserta juga mempelajari perbedaan berita news dan feature . Berita news berfokus pada 5W+1H dengan gaya bahasa lugas dan formal, sedangkan feature mengandalkan sisi human interest dengan gaya deskriptif dan emosional. Pada bagian feature, pemateri menjelaskan teknik show, don’t tell atau deskripsi Sastrawi.

Pada sesi jurnalistik digital, pemateri menyampaikan bahwa penulisan untuk pembaca di ponsel perlu berbeda dari pembaca di laptop. Peserta mempelajari pola membaca digital, struktur judul dan lead yang padat, serta dasar optimasi mesin pencari (SEO). “Kalau baca paragraf panjang, kalau lihat dari HP itu sudah malas, berarti gaya penulisannya harus singkat padat,” kata pemateri.

Di akhir sesi, pemateri mendorong peserta berlatih menulis berita lurus dan fitur. Ia juga menyebut teknik yang dipelajari diharapkan dapat dipraktikkan peserta sehingga penulisan lebih seragam. “Pokoknya latihan aja bikin straight news sama fitur,” kata pemateri.

 

(M. Ikrom Alawi/Sumber Gambar: Dok. Tim SMC, Internship Pusat Karier UIN Jakarta)