Lowongan Kerja Formal Menyusut, Menjadi Content Creator Jadi Pilihan Realistis Gen Z

Lowongan Kerja Formal Menyusut, Menjadi Content Creator Jadi Pilihan Realistis Gen Z

Tangerang Selatan, Berita EPM UIN Jakarta — Mahasiswa saat ini menghadapi perbedaan yang nyata antara teori di ruang perkuliahan dan kenyataan dunia kerja. Di ruang kelas, mahasiswa khususnya dari jurusan teknologi mempelajari basis data, analisis proses bisnis, dan pemrograman perangkat lunak. Namun, linimasa media sosial justru dihiasi kabar pemutusan hubungan kerja (PHK) di industri teknologi, keluhan pelamar yang diabaikan perusahaan, hingga syarat lowongan kerja pemula (entry-level) yang menuntut pengalaman bertahun-tahun. Situasi tersebut akhirnya memicu kecemasan karier (career anxiety) di kalangan mahasiswa menjelang kelulusan.

Kondisi pelik tersebut mendorong banyak anak muda memilih jalur alternatif dengan merintis karier sebagai content creator. Sebagian orang tua atau generasi terdahulu kerap menilai pilihan ini sebelah mata atau dianggap tidak menjanjikan. Padahal, jika melihat realitas lapangan kerja saat ini, keputusan tersebut merupakan respons yang sangat rasional untuk bertahan hidup. Fleksibilitas ekonomi digital memberikan ruang pernapasan baru di tengah ketatnya persaingan kerja, di mana pilihan jalur karier kini tidak dapat lagi dibatasi hanya pada satu pola konvensional saja.

Perusahaan formal memang menyediakan lowongan kerja lulusan baru dalam jumlah yang sangat terbatas. Oleh karena itu, alih-alih menghabiskan waktu menunggu panggilan wawancara yang tak pasti, generasi muda cerdas memanfaatkan platform digital untuk menciptakan peluang kerja mandiri. Dunia industri perlahan juga mulai bergeser, perusahaan kini lebih menghargai kandidat yang memiliki portofolio dan bukti karya nyata ketimbang sekadar deretan nilai akademis di atas kertas.

Bagi mahasiswa bidang teknologi, media sosial dapat difungsikan secara optimal sebagai portofolio terbuka. Pembuatan konten tentu tidak selalu mencakup materi hiburan semata. Mahasiswa dapat mendokumentasikan tugas perkuliahan, membagikan logika pemrograman, mengulas sistem keamanan data, hingga membahas pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) guna menunjukkan kompetensi teknis kepada publik.

Melalui konsistensi membagikan karya di ruang digital, mahasiswa kerap mendapatkan peluang emas yang tak terduga. Kebiasaan membangun portofolio terbuka tersebut tidak hanya berfungsi sebagai sarana unjuk gigi, tetapi juga membuka pintu peluang baru seperti tawaran proyek lepas (freelance), kerja sama bisnis, hingga pencapaian kemandirian finansial.

Meski demikian, mahasiswa diingatkan agar tidak terjebak dalam sikap pasif. Mahasiswa memang tidak harus memiliki rencana karier yang sempurna sejak awal masa perkuliahan, tetapi mereka juga tidak boleh menyerah pada keadaan yang kian kompetitif. Ketika akses menuju perusahaan konvensional semakin menyempit, pemanfaatan ruang digital adalah kunci utama untuk menunjukkan keahlian. Keraguan harus disingkirkan agar tidak menghambat potensi diri, sehingga pembangunan portofolio profesional secara mandiri dapat terus berjalan selagi masih berstatus sebagai mahasiswa.

(Delaila Chentika Kimhwa / Sumber Gambar: https://id.pinterest.com/)