Mengelola Tekanan dan Kritik di Dunia Kerja
Memasuki dunia profesional merupakan salah satu fase terbesar dalam hidup seseorang, di mana kita mulai memikirkan bagaimana cara membangun karier yang sukses di masa depan. Namun, ada satu hal penting yang sering kali terlupakan untuk disiapkan, yaitu kesiapan diri dan kesiapan mental dalam menghadapi lingkungan baru yang penuh dengan dinamika dan tantangan yang belum pernah ditemui sebelumnya. Berdasarkan data survei HR Daily Advisor, ada sekitar 52 persen. lulusan baru yang merasa tidak yakin dengan kesiapan mereka saat mulai memasuki dunia kerja. Kemudian data dari Mental Health First Aid England yang menyebutkan bahwa 31 persen pekerja muda usia 18 sampai 24 tahun berpikir untuk keluar dari pekerjaan karena takut atau merasa tidak aman untuk menyampaikan pendapat atau masalah mereka. Terakhir, laporan dari Mental Health UK mencatat bahwa 1 dari 3 pekerja muda mengambil cuti kerja akibat stres atau masalah kesehatan mental yang menumpuk dalam setahun terakhir.
Tekanan di kantor memang bermacam-macam bentuknya dan sering kali membuat pekerja pemula kaget. Beberapa sumber tekanan yang paling umum di antaranya adalah ekspektasi target yang terlalu tinggi dengan batas waktu yang ketat, adanya ketidaksesuaian antara kenyataan kerja dengan bayangan semasa kuliah, dinamika tim yang kurang sehat atau atasan yang terlalu menuntut, hingga kebiasaan membandingkan diri sendiri dengan pencapaian teman sebaya yang terlihat lebih cepat berkembang. Tekanan-tekanan seperti ini jika terus dibiarkan bisa berubah menjadi stres yang menguras tenaga dan menurunkan produktivitas.
Namun, sebetulnya tidak semua tekanan itu bersifat merusak. Ada juga jenis tekanan positif yang disebut eustress . Tekanan yang baik ini justru bisa memotivasi seseorang untuk mempersiapkan diri lebih matang, meningkatkan fokus, memicu kreativitas, dan memberikan rasa kepuasan setelah pekerjaan selesai. Upaya tekanan di kantor tidak berubah menjadi distress yang membuat permintaan, ada beberapa strategi mengelola stres yang bisa diterapkan, salah satunya adalah memecah pekerjaan besar menjadi unit-unit terkecil yang bisa diselesaikan dalam waktu 25 menit agar tidak terasa terlalu berat.
Selain masalah tugas, menghadapi kritikan dari lingkungan kerja juga sering kali menjadi beban pikiran tersendiri. Penting bagi kita untuk bisa membedakan mana kritik konstruktif yang membangun dan mana kritik tidak sehat. Kritik yang baik biasanya bersifat spesifik membahas perilaku atau hasil kerja serta disertai saran perbaikan yang jelas. Jika mendapatkan kritik seperti ini, kita bisa meresponsnya secara profesional dengan mendengarkan sepenuhnya tanpa memotong, mengakui masukan tersebut dengan berterima kasih, mengklarifikasi bagian yang belum dipahami, lalu mengambil tindakan nyata untuk mendengarkan diri secara tujuan.
Untuk bisa bertahan dalam jangka panjang dan tidak mudah menyerah, kita juga harus mulai membangun pola pikir yang berkembang (growth mindset ) . Ubahlah cara memandang yang menganggap kritik sebagai tanda kegagalan menjadi sebuah kesempatan untuk memperbaiki apa yang masih kurang. Jangan lupa pula untuk selalu menjaga keseimbangan hidup agar terhindar dari kelelahan mental atau burnout . Caranya adalah dengan berani menetapkan batasan waktu kerja yang jelas, mematikan notifikasi kantor setelah jam pulang, serta meluangkan waktu untuk melakukan hobi yang murni untuk kesenangan diri sendiri.
Pada akhirnya, mampu percaya diri di tempat kerja membutuhkan proses yang bertahap dan konsisten. Tanamkan pola pikir sejak hari pertama bahwa kita berada di tempat kerja untuk belajar, bukan untuk langsung menjadi sempurna tanpa cela. Berbuat kesalahan adalah hal yang wajar dan merupakan pelajaran berharga yang tidak bisa dibeli. Melakukan langkah-langkah kecil secara konsisten setiap hari jauh lebih kuat dan efektif untuk membangun kebiasaan profesional daripada memaksa diri melakukan perubahan besar secara sekaligus namun hanya bertahan sebentar.
(Daffa /Sumber Gambar: Dok. FreePic)
