VOYAGER: PERJALANAN, JARAK, DAN MAKNA DI BALIK SEBUAH LAGU

VOYAGER: PERJALANAN, JARAK, DAN MAKNA DI BALIK SEBUAH LAGU

Lagu “Voyager” dari Xdinary Heroes membawa nuansa luar angkasa sejak pertama kali didengar, tetapi lagu ini tidak benar-benar berbicara tentang ruang hampa atau eksplorasi semesta, melainkan tentang sesuatu yang lebih dekat, seperti perjalanan, perubahan, dan hal-hal yang perlahan menjauh. Liriknya mengarah pada satu hal, bahwa semua yang ada pada akhirnya akan sampai pada titik akhir, tetapi lagu ini seperti mengikuti sesuatu yang terus berjalan, bahkan setelah titik tersebut dilewati.

Ada salah satu bagian lirik yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris berbunyi, “My Pale Blue Dot, now so small in the distance.” Kalimat ini merujuk pada foto Pale Blue Dot yang diambil oleh Voyager 1 pada tahun 1990. 

Thumbnail pk_1_epm_20260424_091220_0000

(Gambar 1. Citra Pale Blue Dot)

Dalam gambar tersebut, Bumi terlihat hanya sebagai titik kecil di tengah luasnya ruang angkasa. Perspektif ini pernah dijelaskan oleh Carl Sagan melalui refleksinya terhadap foto tersebut:

Look again at that dot. That's here. That's home. That's us. On it everyone you love, everyone you know, everyone you ever heard of, every human being who ever was, lived out their lives. The aggregate of our joy and suffering, thousands of confident religions, ideologies, and economic doctrines, every hunter and forager, every hero and coward, every creator and destroyer of civilization, every king and peasant, every young couple in love, every mother and father, hopeful child, inventor and explorer, every teacher of morals, every corrupt politician, every superstar, every supreme leader, every saint and sinner in the history of our species lived there… on a mote of dust suspended in a sunbeam.” (Carl Sagan, 1934-1996).

Perspektif tersebut menunjukkan bahwa sesuatu yang terasa besar bisa terlihat sangat kecil ketika jaraknya berubah. Dalam lagu Voyager, Pale Blue Dot bisa dimaknai sebagai simbol dari hal-hal yang pernah menjadi pusat (seperti tempat, kenangan, dan sebagainya, yang perlahan berubah seiring perjalanan). Makna tersebut menjadi hal yang bisa dikaitkan dengan perjalanan Voyager 1.

Thumbnail pk_1_epm_20260424_093853_0000

(Gambar 2. Ilustrasi wahana antariksa Voyager 1)

Diluncurkan oleh NASA pada 5 September 1977, Voyager 1 awalnya ditugaskan untuk mempelajari Jupiter dan Saturnus. Dalam misinya, wahana ini berhasil mengirimkan data penting, termasuk citra detail satelit alami seperti Io, Ganymede, dan Titan, serta menemukan aktivitas vulkanik di Io. Setelah menyelesaikan misi utamanya pada tahun 1980, Voyager 1 tidak kembali ke Bumi. Dengan memanfaatkan gaya gravitasi Saturnus, wahana ini melanjutkan perjalanan keluar dari Tata Surya. Pada 25 Agustus 2012, Voyager 1 melintasi heliopause dan menjadi objek buatan manusia pertama yang memasuki ruang antarbintang. Hingga saat ini, ia terus bergerak menjauh dan masih berkomunikasi dengan jaringan Deep Space Network milik NASA, meskipun dengan keterbatasan daya yang diperkirakan akan berakhir dalam beberapa tahun ke depan.

Thumbnail pk_1_epm_20260424_093748_0000

(Gambar 3. Voyager Golden Record)

Di dalam wahana tersebut, terdapat Voyager Golden Record, sebuah piringan berlapis emas yang berisi berbagai representasi kehidupan di Bumi. Piringan ini memuat suara alam, musik dari berbagai budaya (termasuk gamelan yang direkam pada 1971 di Keraton Pakualaman, Yogyakarta, oleh seorang etnomusikolog bernama  Robert E. Brown), serta salam dalam puluhan bahasa, termasuk Bahasa Indonesia. Tujuannya, jika suatu saat ditemukan oleh bentuk kehidupan lain, piringan tersebut dapat menjadi gambaran tentang kehidupan manusia.

Keberadaan Golden Record ini sejalan dengan lirik “Will you remember me?”. Pertanyaan tersebut tidak hanya terdengar personal, tetapi juga mencerminkan keinginan untuk meninggalkan jejak, meskipun tidak ada kepastian bahwa jejak tersebut akan ditemukan. Kemudian, lirik “Like a star does, when it dies, will burst into brilliant light” menghadirkan sudut pandang yang berbeda tentang akhir. Dalam dunia astronomi, kematian bintang dapat menghasilkan ledakan besar yang membentuk unsur-unsur baru, artinya sebuah akhir tidak selalu benar-benar berakhir karena bisa menjadi awal dari proses berikutnya.

Sobat Karier, dari keseluruhan gambaran tersebut, Voyager tidak hanya menghadirkan metafora tentang luar angkasa, tetapi juga tentang perjalanan itu sendiri. Bagi banyak orang, terutama Sobat Karier yang sedang berada dalam fase mencari arah, ketidakpastian itu terasa seperti sesuatu yang harus segera dijawab, bukan? Namun, melalui metafora Voyager 1, lagu ini menawarkan sudut pandang lain bahwa tidak semua perjalanan membutuhkan kepastian sejak awal. Ada juga hal-hal yang baru bisa dipahami setelah dijalani. Dalam beberapa situasi, tetap berjalan bisa menjadi bagian dari proses menemukan makna tersebut.

Terkait dengan perkembangan karier, makna dalam Voyager juga dapat dipahami melalui perspektif life span career, yaitu bahwa perjalanan karier tidak selalu berjalan lurus, melainkan berkembang seiring waktu dan pengalaman. Dalam proses tersebut, ketidakpastian menjadi hal yang biasa, terutama ketika seseorang berada pada tahap eksplorasi dan pencarian arah. Melalui perspektif Islam, secara ontologis, manusia dipandang sebagai khalifah yang memiliki tujuan penciptaan, sehingga perjalanan hidup (termasuk karier) tidak hanya berorientasi pada aspek material saja, tetapi juga makna dan tanggung jawab. Secara epistemologis, pencarian arah tersebut melibatkan penggunaan akal, pengalaman, serta nilai-nilai yang bersumber dari wahyu. Sementara secara aksiologis, ilmu dan karier pada akhirnya tidak hanya ditujukan untuk pencapaian pribadi, tetapi juga untuk memberikan kemaslahatan dan dijalankan dengan etika.

 

(Kintan A.)