SELAMAT DATANG DI THE MOVING FINISH LINE: MEMAHAMI ARRIVAL FALLACY DALAM DUNIA YANG TIDAK PERNAH SELESAI

SELAMAT DATANG DI THE MOVING FINISH LINE: MEMAHAMI ARRIVAL FALLACY DALAM DUNIA YANG TIDAK PERNAH SELESAI

Istilah mahasiswa berhasil seringkali memiliki gambaran yang hampir sama. Aktif organisasi, mengikuti kompetisi, menjalani magang, sampai membangun networking menjadi patokan yang sering digunakan untuk mengukur keberhasilan selama masa perkuliahan. Berbagai aktivitas tersebut perlahan membentuk cara pandang baru terhadap masa muda mahasiswa. Waktu kuliah tidak lagi dipandang sebagai fase untuk belajar, tetapi juga untuk mempersiapkan diri menghadapi dunia karier dan akhirnya banyak mahasiswa merasa bahwa mereka harus terus berkembang agar tidak tertinggal dari lingkungan sekitarnya.

Di tengah lingkungan seperti itu, banyak mahasiswa mulai hidup dengan pola nanti. Nanti di sini bukan sekadar penunjuk waktu, melainkan cara pandang bahwa ketenangan, kepuasan, atau kebahagiaan akan datang setelah suatu pencapaian berhasil diraih, contohnya ketika seseorang akan lebih tenang jika berhasil menjadi ketua organisasi, lebih puas jika diterima di program magang impian, atau lebih bahagia jika memiliki pencapaian yang dianggap cukup baik dibanding orang lain. Namun, setelah satu target berhasil dicapai, perasaan tersebut sering kali tidak bertahan lama. Kepuasan yang sebelumnya dibayangkan atau diimpikan justru tergantikan oleh target berikutnya. Ada pencapaian baru yang ingin diraih, standar baru yang ingin dipenuhi, atau tujuan lain yang terasa lebih penting untuk dikejar, sehingga garis akhir yang awalnya terlihat jelas menjadi berubah karena terus bergeser.

Dikenal juga sebagai arrival fallacy, yakni sebuah kondisi ketika seseorang percaya bahwa kebahagiaan akan benar-benar datang setelah mencapai titik tertentu. Di era sekarang, pola tersebut semakin mudah dan semakin banyak ditemukan. Media sosial dipenuhi berbagai pencapaian dengan versinya masing-masing. Ada yang magang sejak semester awal, menjadi awardee program bergengsi, membangun bisnis sendiri, sampai diterima di perusahaan besar sebelum wisuda. Memang saat dilihat dari sisi A, hal tersebut dapat menjadi motivasi. Namun, saat dilihat dari sisi B, akan menghadirkan pressure untuk terus berkembang agar tidak tertinggal dan menyebabkan proses berkembang itu sendiri berubah menjadi kompetisi yang tidak pernah selesai. 

Hal-hal yang sudah dijelaskan sebelumnya berkaitan dengan hustle culture, yakni sebuah pola pikir yang menganggap bahwa seseorang harus terus produktif agar dianggap berhasil. Di mana kesibukan sering kali dipandang sebagai simbol pencapaian dan tidak sedikit mahasiswa yang merasa harus terus bergerak agar tidak tertinggal, padahal kondisi tersebut tidak selalu menunjukkan bahwa seseorang sedang berkembang. Dalam beberapa situasi, kesibukan bisa membuat seseorang jarang memiliki kesempatan untuk beristirahat dan memahami apa yang sebenarnya sedang ia rasakan. Arrival fallacy hadir melalui hal-hal kecil, contohnya keinginan untuk segera lulus, mendapatkan pekerjaan pertama, mencapai financial freedom, atau ingin merasa tidak tertinggal dari orang lain. Semua hal tersebut sebenarnya... wajar. Namun, saat hidup hanya dipenuhi keinginan untuk segera sampai, seseorang bisa kehilangan kemampuan untuk menikmati perjalanan itu sendiri.

Sobat Karier, dunia karier memang tidak pernah selesai. Semakin hari, akan ada target baru, standar baru, dan definisi sukses yang terus berubah mengikuti lingkungan. Permasalahannya bukan terletak pada ambisi itu sendiri, melainkan pada keyakinan bahwa kebahagiaan hanya bisa hadir setelah semua target berhasil dicapai. Perlu diingat bahwa tidak semua hal harus segera diselesaikan sekaligus. Ada proses yang memang membutuhkan waktu untuk dipahami, bukan sekadar dikejar, karena dalam beberapa perjalanan, rasa cukup ternyata tidak selalu datang ketika seseorang berhasil sampai di tujuan, tetapi saat ia mulai memahami cara menikmati perjalanan tersebut.

 

(Kintan A./ Sumber Gambar: Pinterest)