“Perempuan, Karier, dan Rasa Bersalah: Tekanan yang Tidak Selalu Terlihat”
Mengapa perempuan sering merasa puas ketika kehadirannya terasa 'kurang cukup' ketika tidak ada di rumah? Apalagi ketika ia mulai belajar meraih potensi terbaiknya. Pertanyaan tersebut lekat dengan kehidupan perempuan yang sering harus memilih di antara keduanya. Domestik atau Karir. Berangkat dari keresahan yang tidak terlihat namun jujur dari ekspetasi sosial yang seringkali menagih nilai yang dirasa cukup baik.
Isu yang terjadi ini buka hanya membahas permasalahan individu, namun konstruksi sosial nyata yang dapat dirasakan di lini keputusan sehari-hari perempuan. Kita sering mendengar perempuan yang dilema menjadi seseorang yang ingin memilih profesionalitas karier, bahkan sebelum ia berusaha menikah. Tuntutan sosial kerap melontarkan bahwa, perempuan tidak harus bekerja karena kelak akan menjadi ibu rumah tangga dan khawatir tidak bisa mengurus keluarga. Konstruksi sosial sudah menggelantungi perempuan dengan ekspetasi turun temurun bahkan sebelum perempuan punya waktu untuk benar-benar yakin memilih arah kariernya.
Dilematis dua pilihan perempuan ini disebut dengan Cognitive Dissonance atau perasaan tidak nyaman saat memiliki dua sikap atau keyakinan yang tidak sejalan. Memilih antara karir atau rumah. Kejadian ini memicu stres dalam diri perempuan yang menentukan arah pilihan hidupnya bahkan sebelum menikah. Meraih potensi terbaik atau mencari pekerjaan yang 'aman-aman' saja ketika kelak akan berumah tangga.
Kenyataannya hal tersebut bukanlah menjadi pilihan bagi perempuan, melainkan hal bagi setiap individu dan gender dari berbagai latar belakang untuk meraih potensi terbaiknya. Sehingga perempuan tidak perlu ragu untuk mulai memetakan kariernya lebih awal tanpa rasa takut direnggut oleh kepercayaan roh-roh nenek moyang bahwa perempuan sudah menjadi 'cukup baik' tanpa perlu berkarir.
Ketimpangan hak ini muncul dan disuarakan bukan untuk menyaingi laki-laki di ranah profesionalitas, melainkan bentuk tanggung jawab bersama bahwa setiap individu memiliki kesempatan yang sama tanpa meninggalkan kewajibannya baik secara sosial maupun keluarga.
Perayaan Hari Kartini direncanakan bukan sekedar menjadi acara simbolik setiap tahun hanya dengan mengenakan kebaya, melainkan kesadaran untuk perempuan terus berdikari dan berdaya untuk lingkungan sekitar.
Selamat Merayakan Hari Kartini!
Penulis dan Editor: Ade Kamilah
Sumber Gambar: Pinterest @GregoSugimin
