Bukan Sekadar Tren, PERSAMI x Navasena AI Kupas Tuntas Strategi 'Hack' Algoritma Karier Lewat AI

Bukan Sekadar Tren, PERSAMI x Navasena AI Kupas Tuntas Strategi 'Hack' Algoritma Karier Lewat AI

Pusat Karier, Berita Pusat Karier UIN Jakarta - Pusat Karier UIN Jakarta kembali menggelar kegiatan PERSAMI (Persiapan Karier, Eksplorasi, dan Magang Mahasiswa Inspiratif), yang kali ini berkolaborasi dengan Navasena AI. Kegiatan yang berlangsung melalui Zoom Meeting pada Sabtu dan Minggu, 9-10 Mei 2026 ini menyoroti strategi adaptasi mahasiswa dalam memanfaatkan kecerdasan buatan untuk merancang jalur karier yang solid.

Acara dibuka dengan sambutan dari Kepala Pusat Karier UIN Jakarta, Muhammad Kholis Hamdy, S.Sos,I., M.IntDev., yang menekankan pentingnya respons adaptif mahasiswa terhadap kehadiran Artificial Intelligence (AI) sebagai bagian dari kenormalan sosial saat ini.

“Membangun karier dengan meng-equip diri kalian dengan knowledge dan skill itu sesuatu yang berkesinambungan. Mengingat lifespan theory, perjalanan karier itu berlangsung sepanjang hidup. Oleh karena itu, perubahan cepat ini harus kalian respons dengan menyiapkan diri dan membangun reputasi,” tegas Muhammad Kholis Hamdy dalam sambutannya. Beliau juga mendorong mahasiswa untuk membuka perspektif karier hingga tingkat global. "Membangun portofolio profesional dan networking bisa meningkatkan mobilitas sosial kalian, membuka horizon untuk beradaptasi dan berkarir secara global dengan cara yang elegan," tambahnya.

 

Day 1: The AI Advantage: Elevating Personal Branding & Networking for Career Growth

Memasuki sesi inti pada hari pertama, PERSAMI mengangkat tema “The AI Advantage: Elevating Personal Branding & Networking for Career Growth” dengan menghadirkan Dr. Anthonius S. Hutabarat, SE., MM., Founder Navasena AI. Sesi ini membedah bagaimana AI dapat dimanfaatkan sebagai "mesin percepatan branding" (AI Co-Pilot), bukan sekadar alat copy-paste, melainkan sebagai rekan berpikir strategis.

“Saat melamar pekerjaan, HRD tidak hanya melihat CV, tetapi juga menganalisis jejak digital kita. Kesempatan ini harus dimanfaatkan dengan membangun personal branding yang spesifik dan discoverable di platform profesional seperti LinkedIn,” jelas Dr. Anthonius.

Ia menyoroti kelemahan banyak pencari kerja yang profilnya terlalu umum dan tidak terdeteksi oleh algoritma rekrutmen. Untuk mengatasi hal tersebut, ia membagikan teknik reframing pengalaman. Melalui taktik pemetaan dan penulisan ulang berbasis AI, pengalaman kepanitiaan kampus atau tugas kuliah biasa dapat diubah narasinya menjadi cerita kepemimpinan dan pemecahan masalah yang berdampak tinggi di mata industri.

"Kita bisa menggunakan AI untuk menghargai diri kita sendiri. Pekerjaan yang kesannya biasa saja, jika dikomunikasikan dengan narasi yang tepat, akan terbaca sebagai professional signal yang kuat oleh pasar dan perusahaan," ungkapnya.

Menutup sesinya, Dr. Anthonius membagikan strategi praktis berupa 7-Day Action Plan untuk LinkedIn, serta memberikan cheat codes prompt AI yang dapat langsung diaplikasikan peserta. Ia mengingatkan bahwa aksi kecil 15 menit sehari yang konsisten jauh lebih berdampak daripada masterplan besar yang tidak pernah dieksekusi.

 

Day 2: Workplace Adaptation in the Al Era: Preparing Yourself for the Future of Work

Pusat Karier UIN Jakarta kembali melanjutkan rangkaian kegiatan pada hari kedua dengan mengangkat tema “Workplace Adaptation in the AI Era: Preparing Yourself for the Future of Work”. Kegiatan yang dimulai pukul 09.30 WIB sampai selesai ini menghadirkan Hasina Haqsya,  S.Kom, M.SI. selaku Program Manager Navasena AI sebagai narasumber. Dalam pemaparannya, Hasina menjelaskan bahwa terdapat perbedaan besar antara kehidupan perkuliahan dan dunia kerja. Jika lingkungan kampus cenderung fleksibel, individual, dan masih memberikan ruang untuk trial and error, sedangkan dunia kerja menuntut ritme yang lebih cepat, target yang jelas, dan kemampuan bekerja yang kolaboratif. Hasina menyampaikan bahwa kemampuan adaptasi menjadi salah satu keterampilan utama yang harus dimiliki fresh graduate, mengingat banyak lulusan baru mengalami culture shock pada tiga bulan pertama bekerja. Menurutnya, kemampuan beradaptasi tidak hanya membantu seseorang bertahan di lingkungan kerja, tetapi juga mendukung perkembangan karier dan meningkatkan nilai profesional di mata perusahaan.

Peserta juga diajak memahami berbagai tantangan yang dihadapi fresh graduate ketika memasuki dunia kerja. Tantangan tersebut meliputi culture shock terhadap ritme dan aturan kantor, tuntutan profesionalitas yang lebih tinggi dibandingkan tugas perkuliahan, kemampuan bekerja sama lintas divisi, sampai penyesuaian terhadap komunikasi formal dengan atasan maupun klien. Perubahan teknologi dan kebijakan yang berlangsung cepat menjadi tantangan tersendiri bagi lulusan baru. Ia juga mengatakan bahwa rasa tidak siap merupakan hal yang wajar dialami oleh setiap individu yang baru memasuki dunia kerja.

Hasina menyoroti pentingnya penguasaan soft skills sebagai bekal utama dalam proses adaptasi. Beberapa keterampilan yang dianggap penting, antara lain komunikasi profesional, kolaborasi dan teamwork, kemampuan problem solving, sikap proaktif, dan emotional intelligence. Peserta diberikan contoh perbedaan antara pola komunikasi yang kurang efektif dan komunikasi profesional yang lebih solutif dalam lingkungan kerja. Peserta juga diajak memahami pentingnya sikap proaktif, seperti menawarkan bantuan, mengusulkan perbaikan, dan aktif bertanya untuk mempercepat proses belajar di tempat kerja. Menurut Hasina, banyak fresh graduate mengalami kesulitan beradaptasi bukan karena kurang pintar, melainkan karena belum memiliki workplace skill yang dibutuhkan di dunia profesional.

Materi selanjutnya membahas tentang self management sebagai fondasi produktivitas jangka panjang. Hasina menjelaskan empat pilar utama dalam self management, yaitu kemampuan mengatur waktu, menentukan prioritas, menjaga konsistensi produktivitas, dan mengelola tanggung jawab pekerjaan. Peserta diperkenalkan dengan beberapa metode sederhana, seperti time blocking dan Eisenhower Matrix untuk membantu pengelolaan pekerjaan secara lebih efektif. Kemudian memiliki growth mindset dalam perjalanan karier juga sama pentingnya. Ia mengingatkan bahwa pekerjaan pertama bukanlah akhir dari perjalanan profesional seseorang dan setiap individu perlu terus belajar dan terbuka terhadap perubahan. AI dipandang bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai partner kerja yang dapat membantu meningkatkan produktivitas, mempercepat proses belajar skill baru, mendukung komunikasi profesional, dan membantu riset sekaligus analisis pekerjaan.

Melalui PERSAMI 4 dan 5 ini, peserta diharapkan dapat memahami bahwa tantangan di awal karier merupakan hal yang normal dan dapat dihadapi dengan kesiapan mental, penguasaan soft skills, dan kemampuan beradaptasi yang baik. Pusat Karier UIN Jakarta terus berupaya menghadirkan ruang belajar yang sesuai dan aplikatif bagi mahasiswa dalam mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja di era AI yang terus berkembang.

 

(Nayla T./Kintan A./Sumber Gambar: Dok. Tim EPM)